Berhubung gue ini tipe penulis emosional alias nulis cuma kalo emosi lagi 'tinggi' (kadang malah sengaja nulis buat terapi), dan suasana masa kampanye capres ini sedemikian panasnya sampai emosi gue juga tersentil, akhirnya gue putuskan gue gak sanggup lagi menahan keinginan buat gak sok2an berpolitik dengan menuliskan tentang pemilu capres di blog ini. Beware, this is gonna be a long long post.
Dengan ada kandidat capres yang cuma dua, langsung pemilu sudden death, udah pasti kampanye kedua calon bakalan bunuh-bunuhan banget. Apalagi gue melihatnya, kedua calon ini membawa warna yang beda banget. Capres 1, Pak Bowo, tampil sebagai sosok fighter, dengan background militer yang biasa digeneralisasi dengan sikap tegas, adalah tipe capres yang menjual janji dalam bentuk retorika, dengan tentunya penempatan dia sebagai 'solusi bangsa' yang akan berusahan mengubah nasib rakyat Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan ditakuti bangsa lain. Sementara si Capres 2, Om Joko, adalah bukti nyata demokrasi di mana rakyat biasa melalui perjalanan demokrasinya yang terus dipilih rakyat karena kinerja baiknya sehingga akhirnya bisa menjadi calon pemimpin nomor 1 di negara ini. Om Joko sendiri di mata gue adalah tipe capres yang menjual janji dalam bentuk program yang lebih konkrit berupa sistem, yang banyak bercikal bakal dari sistem pernah dia lakukan saat dia memimpin pemerintahan sipil di Solo dan Jakarta. Dengan jargon Revolusi Mental, Om Joko mengusung konsep membangun negara dilakukan oleh kita bersama.
Beda? Aku bilang sih yes banget.
Samanya? Sama-sama gagah bawain janji banyaaaak banget yang kita gak bakal tau bakal kejadian semua apa gak kalo nanti beneran si Bapak ato si Om jadi presiden nanti. Dan seperti layaknya manusia kata Bunda Dorce, sama-sama pasti ada aja salah dan kurangnya.
Terus milihnya gimana?
Terus terang gue awalnya udah agak berat ke Jokowi, secara gue juga milih dia sebagai Gubernur Jakarta karena yakin dengan hasil-hasil kerjanya selama ini. Gue kagum sama duo Jokowi Ahok di Jakarta walau waktunya baru sebentar. Gue suka karakter Jokowi yang banyak kerja dan gak banyak basa basi kayak politikus biasanya. Intinya gue dari dulu suka sama Jokowi (gue tembak aja apa yah? #outoffocus #maapkan).
Sementara itu, Pak Bowo, bukannya gak suka, tapi gimana juga dia berafiliasi dengan '98 yang buat gue adalah sejarah terkelam negara ini yang gue alamin langsung. Mau dia atau Wiranto atau siapapun dalangnya, gue gak akan bisa terima kalau orang yang tangannya pernah ikut kena darah apapun posisinya dia, baik memerintah atau diperintah, akan jadi orang nomor satu negara ini, let alone bawa dia (dan semua yang ikut bertanggung jawab soal '98) ke pengadilan. Mungkin lo bilang gue lebay dan basi dengan masih bawa-bawa isu HAM di sini, tapi '98 itu adalah masa di mana gue sebagai warga negara sangat takut berada di tanah air gue sendiri, karena saat itu gue adalah juga termasuk kaum target kerusuhan '98 itu. Jadi, saat sekarang di mana gue punya hak yang sama dengan semua warga negara Indonesia lainnya, gue akan sangat menghindari buat milih orang yang bisa bikin keadaan kayak '98 lagi. Kalo dibilang give him a second chance, tetep aja gue gak bisa milih orang yg pernah ngelakuin perbuatan (sangat) jahat untuk jadi orang yang punya kuasa nomor saru di negara ini. Karena sekali dia pernah ngelakuin itu, gak akan lebih susah buat dia ngulangin itu lagi, dibandingkan orang yang jelas-jelas gak pernah terlibat kejahatan apapun. Heran aja gue betapa permisifnya orang sini sama isu berat kayak gini. Yang masih berkilah Pak Bowo kan diperintah atasan, coba googling atau ngewiki tentang Nuremberg Principles yang keluar dari pengadilan Nuremberg-nya nazi, di sana dijelasin mau atasan mau kacung kampret pesuruh tetep aja salah kalau emang terbukti ikutan dalam kejahatan kemanusiaan.
Tapi, tapi yah tapi. Gak adil dong kalo gue langsung ngeban Pak Bowo 'CUMA' gara-gara kasus '98. Sebagai bagian dari Kelas Menengah Ngehe (yang mana juga ironisnya lahir setelah reformasi '98, kalo gak mana berani cuap-cuap kayak sekarang lo!), gue dituntut untuk punya alasan yang lebih less-emotional dan menyeluruh terkait agenda yang dibawa kedua capres. Intinya gue harus punya alasan kuat yang kalo diajak debat ama pendukung oposisi gue bakalan tetep menang (Hidup Kelas Menengah Ngehe!).
Nah, ini baru masuk bagian susahnya. Gue harus menganalisa semuanya, yah program, omongan, orang-orang di belakangnya, track recordnya baik prestasi maupun aibnya. Susahnya lagi, gue harus memposisikan sebagai kaum netral (inget pelajaran Fisika Dasar di TPB, netral berarti mengakomodir kedua kutub, camkan itu anak muda apalagi srikandi arjuna ganesha!). So, on being neutral, berarti gue harus cari kelebihan dan kekurang keduanya. Berhubung gue uda nemu banyak kelebihan Om Joko dan kekurangan Pak Bowo, PR gue saat ini adalah mencari sebanyak-banyaknya kekurangan Om Joko dan kelebihan Pak Bowo. Dan cara paling mudahnya adalah melirik isi kepala pendukung Pak Bowo tentu saja!
Nah, ini dia akhirnya yang bikin emosi gue kemudian tersentil. Sayang seribu sayang, susah banget cari jawaban objektif dari pendukung Pak Bowo. Entah ada apa dengan para pendukung Pak Bowo, yang kebanyakan gue dapat malah black campaign mulu, dengan bangganya nyebarin berita hoax. Apa juga susahnya sih googling buat klarifikasi berita yang didapat, terutama berita yg kontroversial dan isinya emang bertujuan buat provokasi? Nah, terus yah terus, gue juga ngeliat kok pendukung Om Joko juga semacam jadi tersulut sama kelakuan mabok-mecin-nya pendukung Pak Bowo, dan mulai keluar defensifnya sampai kok yah jadi ikutan nyebarin berita kompor bleduk juga. Cedih :(
But anyway, berikut informasi yang gue berhasil kumpulkan, walo agak takut gue tetep gak obyektif dan kurang data, jadi mohon maaf dulu nih yah buat kedua pihak pendukung jangan gebukin gue kalo ada salah-salah kata :(
1. Pak Bowo
(+) duitnya banyak. Entah ini sisi positif apa negatif, pokoknya duitnya banyak soalnya disokong adiknya yang kayanya selevel Bakrie. Ini berpengaruh banget sama kampanyenya yg beneran berhasil karena kuatnya dukungan dana di belakangnya.
(+) harusnya gak akan nindas minoritas secara ibu dan adik-adiknya beragama kristen.
(+) pinter orasi. Entah ini juga sisi positif apa negatif, karena yg model begini biasanya gak pernah ketangkap substansinya apaan, tapi karena bawanya seru jadi bisa lebih meyakinkan orang yang gak mau mikir substansi yang penting keywordnya disebut. Kalo kata pendukungnya sih, yang diusung Pak Bowo ini konsep, levelnya di atas, bukan operasional strategi kayak Om Joko. Sayangnya kalo gue minta elaborasi lagi konsep yang dibawa apaan, di mana level strategisnya buat Indonesia, gak ada yg bisa jelasin substansinya. Gak, gue gak nyalahin Pak Bowo, gue nyalahin pendukungnya yg kayaknya baru tau keyword konsep tanpa bisa mengejelasin isinya.
(+) Gerindra cukup punya nama sebagai parpol yg di masa pemerintahan kemarin paling mendingan. Pernah ngeluarin larangan buat anggotanya ikutan jalan-jalan studi bandingnya DPR sialan itu. #respect
(+) katanya tegas. Karir militernya dinilai bagus (walau tetep diberhentikan kemudian, which makes your argument kinda invalid). Walau pendukungnya gak bisa jelasin tegasnya secara konkrit gimana, dan justru gue yg balik mempertanyakan kalau dia tegas kenapa dia gak tegas melarang pendukungnya buat gak melakukan black campaign selama kampanye. Di mana tegasnya?
(-) kesangkut HAM. Tangannya berdarah. Udah dijelasin panjang lebar di atas.
(-) emosian. Kestabilan emosi buat pemimpin ini penting yah menurut gue. Tanpa harus ngutip baca di artikel ini itu yg nyebutin testimoni dari orang-orang yang pernah ditampar, dilempar asbak, dll sama Pak Bowo, kalian semua juga liat kan kalo emosinya Pak Bowo gampang bener kepancing sama pertanyaan Pakde JK di debat 1. Gak cuma emosi cukup tinggi pas dia jawab pertanyaan Pakde JK, abis itu dia juga mendadak keliatan shaking pas balik mau nanya. Kalo lo anaknya suka emosian kayak gue, pasti tau, shaking itu adalah hasil dari usaha keras lo buat menetralkan emosi yg ud terlanjur keluar dalam waktu instan. Kalian yang nilai. Kalo aku sih yes. #digaplokMasAnang
(-) program-programnya abstrak dan kurang relevan. Oke ini subyektif, tapi sumpah gue berusaha seobyektif mungkin menangkap substansi jawaban dia di setiap debat capres, tapi gue jarang banget dapat jawaban memuaskan. Kenapa penanggulangan korupsi malah naikin gaji PNS? Kenapa ningkatin kesejahteraan rakyat dengan naikin UMR ke 6jt? Kenapa apa aja dijawabnya dengan menutup kebocoran dana tanpa menjelaskan begitu dananya berhasil diselamatkan akan dipakai untuk bangun apa atau buat program apa? Terus kebocoran direvisi jadi kehilangan potensi, yg mana balikin potensi kan butuh tahunan, terus ntar jalanin programnya pake uang yg mana dong? Jadi, apa otak gue yang gak nyampe? Entahlah? #sobekhasiltesIQ
(-) BARISAN PENDUKUNG DI BELAKANG EBUJUBUNENG PENJAHAT SEMUA! Dari cawapresnya Hatta Rajasa yg kena dilaporin kasus mafia migas. Aburizal Bakrie, si calon menteri utama, tukang kemplang pajak yang diaduin Ibu Sri Mulyani sendiri, utang sana-sini gak mau bayar kayak nasabah Bakrie Life yang dananya gak dibayar-bayar sejak berapa tahun lalu, bahkan partner bisnisnya sekelas Rotschild aja ngamuk karena ngerasa ditipu sama dia (coba baca tentang kisruh akhir tukar guling Bumi sama Valar yah, googling sana). Udah gitu, kalo baca artikel bisnis dari luar, ARB ini emang ngetop sebagai pengusaha Indo yg licik. Asli. Terus yah terus, Suryadharma Ali yg kesangkut kasus korupsi DepAg (anjirlah dosanya nih orang kalo beneran korupsi sih) malah dibelain. Terus SPMI digandeng, dan Said Iqbal (oh iyah gue taunya jahatnya orang ini) dijanjiin jadi Menaker. Terus si partai fenomenal PKS dengan segudang kasus-kasus dan tindakan kontroversinya yang dijanjiin sejumlah jabatan menteri strategis, ini diakui Pak Bowo langsung. Belom lagi musuh semua umat yang masih belom jadi zombie (alias masih punya otak sehat di kepalanya), the one and only FPI, yg kata Pak Bowo kalo dia menang, organisasi kayak FPI ini mau dilatih sama TNI sekalian :( :( Oh, kemampuan Pak Bowo bikin organisasi buat defens berbasis massa dari sipil itu masih kuat loh, pernah denger GHIBAS, ormas yang suka dimintain tolong pengusaha buat ngusir serangan buruh? Itu yang bentuk yah Pak Bowo juga. Belom lagi, jajaran ormas dari warna ekstrimisme agamis ini nganggep Pak Bowo jadi panglima perang tertingginya (yg sampe sekarang gue gak ngerti kenapa? Kok bisa? #sobektesIQlagi). Intinya di belakang Pak Bowo nyaris gak ada orang baiknya, dan seremnya, orang-orang ini juga yg bakal mendampingi dan membantu dia menjalankan pemerintahan dia kelak. Help :(
(-) terakhir dan paling penting, Pak Bowo dalam omongan-omongannya baik dalam wawancara atau orasinya, mengindikasikan ketidaksukaannya terhadap demokrasi yang sekarang ada di sini. "Democracy exhausts us", katanya dalam salah satu pidatonya. Juga wawancaranya dengan Allan Nairn yg mengindikasikan ke situ. Ini emang baru asumsi sama kayak asumsi Om Joko bakal jadi Presiden Boneka, tapi asumsi yang ini nyeremin banget. Dan indikasi-indikasi ke sama udah keliatan dari omongannya sendiri. Indikasi kalo dia bakal bawa paham fasisme ke sini. Ayo googling tentang fasis, itu serem banget kalo sampe kejadian, yang adalah sama aja kayak Orba lagi dan cara buat matiinnya adalah dengan kejadian macam '98 lagi. We don't need another '98. In fact, the '98 tragedy should not ever happen again in this peaceful country. Tentang hal ini, bisa baca di artikel bagus dan cukup obyektif ditulis jurnalis Australia, di sini
http://inside.org.au/indonesia-on-the-knifes-edge/(-) kampanyenya menghalalkan segala cara. Photoshop foto orang tanpa ijin. Black campaign sejahat tabloid Obor Rakyat. Bayar ketua Partai Aceh 50M. Sebar surat personal sejumlah 5,3juta surat yg isinya ada duitnya. Yah itu cuma sebagian kecilnya aja.
Udah yah Pak Bowo nya, gue merinding sendiri nih soalnya.
Meanwhile, Om Joko:
(+) kinerjanya udah terbukti oke. Oh, fakta dan data tentang ini banyak banget bertebaran kalo lo gak ignorant. Salah satu yg paling membanggakan adalah dia jadi orang Indonesia satu-satunya yg masuk 50 Pemimpin Terbaik Dunia versi majalah Fortune (yg kalo dibaca, 50 orang itu emang beneran layak disebut terbaik). Kalau mau daftar prestasi Om Joko yg netral, salah satunya bisa liat dari situs kemendagri tentang prestasi 1 tahun pertama Jokowi-Ahok
http://www.kemendagri.go.id/news/2013/10/10/ini-hasil-kerja-jokowi-ahok-selama-setahun-pertama (+) didukung banyak orang baik. Jubirnya aja Anies Baswedan. Cawapresnya salah satu mantan capres yg dinilai berhasil, Pakde JK. Bu Risma, Faisal Basri, Franz Magnis, Goenawan Mohamad adalah sedikit dari orang2 yg gue hormati yg mendukung Om Joko. Belom lagi orang-orang biasa yg gue hormati isi kepalanya, semuanya mendukung Om Joko. Bahkan kalo Gus Dur masih hidup, gue yakin dia juga merapat ke Jokowi (seperti sikap yg ditunjukkan keluarga Gus Dur saat ini).
(+) orang baik. Ini beneran. At least, di antara politikus-politikus kotor, dia adalah salah satu orang langka yg belum pernah terbukti terlibat kejahatan dalam bentuk apapun. Yg gak setuju dengan statement ini, gue tantang buat nunjukin data dan fakta konkritnya.
(+) liat programnya. E-government buat transparansi di pemerintahan, guna menghindari korupsi. Pembangunan sistem here and there. Liat konsep yg dibawa, revolusi mental. Itu keren, karena mengajak seluruh masyarakat buat ikutan dalam memajukan Indonesia, gak cuma pemerintah, gak cuma dia doang. Pendekatannya yg sering ngomongin sistem memang bahan banget buat diputer sama kubu no.1 menjadi argumen bahwa Om Joko cuma pemimpin level manager, bukan leader. Again, satu argumen yg cuma berdasarkan opini, gak didukung data dan fakta kalo Om Joko gak sanggup jadi leader. (Kalo gue akan bawa lagi, yg masuk 50 Pemimpin Terbaik dunia siapa? manager Joko apa Leader Prabowo?) ohya, visi misi Om Joko bisa diliat di sini
http://nasional.kompas.com/read/2014/05/15/0705215/Ini.Visi.Misi.Jokowi.kalau.Jadi.Presiden.(-) capres dari PDI-P, salah satu partai dengan anggota yg terlibat banyak kasus korupsi, partai dipimpin oleh Bu Mega yg kredibilitasnya sebagai (mantan) pemimpin negara dipertanyakan dengan segala keputusan kontroversialnya saat menjabat sebagai Presiden RI tahun 2001-2004. But then again, partai yg lebih korup, ada di sisi no.1 juga.
(-) disebut-sebut sebagai bonekanya Bu Mega. Yg sayangnya, belum ada bukti dari statement ini. Toh selama jadi Gubernur Jakarta, gak sekalipun Bu Mega terbukti melalukan intervensi barang satu kali pun. Another black campaign, I guess.
(-) kampanyenya gak oke. Gara-gara kebanyakan isinya relawan, gak ada yg terorganisir jadi satu bahasa (gak kayak kubu sebelah). Dan gak sampe ke daerah-daerah terpencil (sementara black campaign dari kubu sebelah sampe ke sana).
(-) katanya melanggar amanah, sumpah menjadi Gubernur Jakarta selama 5 tahun demi ambisinya jadi presiden. Again, another argumen yg gak bisa dipertanggungjawabkan. Toh nyatanya Om Joko jadi capres karena ditunju langsung sama Bu Mega (yg bisa aja sebenernya nyalonin dirinya sendiri instead). Dan soal melanggar amanah, yg ngomong ini entah gimana mikirnya, kan dengan Om Joko jadi presiden, berarti dia tetep jadi pemimpinnya orang Jakarta dan memberikan kesempatan bagi daerah lain untuk dapat berubah menjadi baik seperti Jakarta dan Solo. For the greater good. Tolonglah jangan sesempit itu memandang sesuatu.
Hah! Begitulah uneg-uneg gue terhadap topik hot ini. Masih banyak sebenernya yg sayangnya gak bisa gue tulisin di semua demi menjaga tulisan gak berta sebelah banget. Walaupun ternyata tulisan gue tetep baunya subyektif juga yah. Hahaha. Tapi paling gak, gue udah memberi kesempatan diri gue buat jadi netral at first, dan kemudian memilih berdasarkan semua informasi yg gue kumpulin dari kedua sisi. Logika memilih pembangunan sistem dan manusia daripada menyerahkan pada solusi dalam pribadi 1 orang. Hati nurani lebih takut pada presiden diktator yg gak bisa dikritik daripada presiden bonekanya Bu Mega. Jadi, adalah sesuatu yg sangat mudah buat memilih. To choose to stand on the right side. ✌️#SalamDuaJari