Sejak kemarin, ada berita tentang penangkapan pejabat pemerintah oleh KPK yang cukup menarik perhatian gue. Kenapa menarik? Karena tersangkanya adalah alumni, dosen, dan Guru Besar ITB dengan gelar professor dari Jerman, dengan profesi sebagai akademisi dan pengamat perminyakan, dan pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral belum lama ini. Saat ditangkap, Om Rudi Rubiandini menjabat sebagai Kepala SKK Migas, yang salah satu tugasnya melakukan pengawasan dan urus mengurus kontrak/tender pengadaan dan penjualan minyak yang tidak dikonsumi oleh negara. Om Rudi banyak dipuji oleh kalangan perminyakan, 7 bulan menjabat Kepala SKK Migas, Om Rudi berhasil meningkatkan produksi minyak nasional bahkan mencapai target yang ditetapkan dalam APBN, hal yang belum pernah terjadi selama 3 tahun terakhir.
This is the perfect picture of ITB's Alumni. Temen gue yang kerja di bidang perminyakan bilang, He was a hero. Yah, he was. Until he was found accepting 700.000 USD bribe from his vendor. Om Rudi sendiri menyatakan bahwa dia tidak melakukan korupsi, hanya menerima gratifikasi. Dan temen gue tetep bilang, he was a hero. Dan gue tetep bilang, not again.
Temen gue bilang, di bidang perminyakan gratifikasi seperti itu adalah hal biasa. Dia yang baru bekerja selama 5 tahun saja bisa mendapatkan gratifikasi sebesar Avanza setelah proyek berakhir, jika dia mau. Bukan suap, toh diberikan setelah proyek berakhir, bukan sebelum tender dilaksanakan.
Buat gue pribadi, segala jenis gratifikasi yah gak sepantasnya diterima. Yah, okelah, mungkin gak fair pernyataan ini keluar dari mulut bocah yang pekerjaannya emang jauh dari godaan gratifikasi. Paling jauh juga dibawain sekardus donat sama Vendor, yang langsung dibuka dan dibagi-bagi ke seluruh penghuni kantor. Ini yang biasa terjadi di area kerjaan gue. Dan mungkin yang biasa terjadi di area kerjaan Om Rudi adalah nerima duit banyak dari Vendor.
Tapi, apakah ada orang yang menganggap Om Rudi tidak bersalah? Mungkin aja. Mungkin aja, ini adalah yang biasa terjadi di area sana, sehingga hal ini bukan menjadi suatu 'perbuatan salah' lagi. Toh siapa juga yang gak pengen duit. Percaya deh, saat seseorang dihadapkan pada sebuah kejadian yang biasa terjadi, dan godaannya sangat menyenangkan, pada satu titik our greedy-human-sense akan keluar dan menjustifikasi bahwa 'kebiasaan' itu bukan hal yang salah. "Ah, biasa kok, namanya rejeki, toh gue dapetnya fair tanpa berbuat curang", begitu mungkin cara kita mendamaikan si malaikat di hati kita yang tadinya terus menolak. Cuma hero beneran yang bisa menolak perbuatan salah walaupun udah jadi kebiasaan.
Kebiasaan. Hal-hal salah menjadi benar karena biasa terjadi. Nilai, prinsip, idealisme bisa terkikis gara-gara kebiasaan. Biasa janjian ngaret, biasa bohong, biasa selingkuh, biasa ngejelekin orang, biasa buang sampah sembarangan, biasa masuk jalur busway, biasa gak ngantri. Semuanya menjadi terasa benar karena biasa. Batas hitam dan putih menjadi saru karena biasa. Gila yah.
Ini gue sotoy sih, dan since benar dan salah itu emang relatif, tapi ini checklist gue buat ngecek apa yang gue lakukan benar atau salah adalah dengan mengecek hal-hal ini:
- yang gue lakukan mengambil hak orang lain gak? paling sadis itu yang menyakiti hati orang lain, karena itu berarti gue mengambil hak dia buat bahagia.
- yang gue lakukan jika dilakukan semua orang bakal menyebabkan kekacauan gak? gue buang sampah sembarangan keluar mobil, udah biasa banget soalnya, terus semua orang buang sampah sembarangan keluar mobilnya juga, terus mau jadi apa jalanan kita? Yakin masih tetep baik-baik aja?
- apa sih gue siap dengan aftermath dari yang gue lakukan ini? gue nerima hadiah uang dari vendor, coba pikir apa iya ke depannya gak bakal ada yang berubah dari hidup gue? Dengan hadiahnya, si vendor berarti udah menanam bibit di hidup gue. A bad deed. Yang jika suatu saat dia mau mengambil hasil bibitnya, apa gue udah siap dengan membayarnya?
Kalo jawaban no 1 dan 2 adalah gak, dan jawaban no 3 adalah gue gak siap, that means I'm doing wrong.
Sebenarnya hal ini terlintas di pikiran gue juga karena refleksi diri sendiri juga. Right now, I realised I was doing wrong with gossiping about some people, and still is. Not proud of what I'm doing, and will continue to accept that I did and still do something wrong without reasoning that this is a common thing, that this is just a 'kebiasaan' people do, until I actually stop it. Susah sih berhentiinnya, apalagi kalau itu adalah cara buat nyambung di lingkungan pergaulan. But I might hurt some people with doing this. And taking someone's other happiness is very not a cool thing to do.
Tapi yah, paling gak dengan checklist gue tadi gue tau gue salah, gak berniat buat justifikasi juga, sambil terus berjanji dan berusaha suatu saat gue akan berhenti melakukan si hitam satu ini. Begitu juga dengan perbuataan hitam lainnya.
Tapi yah, paling gak dengan checklist gue tadi gue tau gue salah, gak berniat buat justifikasi juga, sambil terus berjanji dan berusaha suatu saat gue akan berhenti melakukan si hitam satu ini. Begitu juga dengan perbuataan hitam lainnya.
Don't ever defend a bad thing because it's a common thing. A bad thing is still bad thing, no matter how we twist it. Just accept it, apologize if you need, live the consequences if you have, make a mend if you must, and try your ass off to not do it again in the future.
I am not a hero. I never was. And so does Om Rudi now.
-D
0 comments:
Post a Comment